Kajian perilaku pemilih · Pileg 2024

Kenapa pemilih mencoblos caleg ini, bukan itu?

Riset penuh tentang perilaku pemilih legislatif — politik uang, identitas, dan kompetensi caleg. Lengkap dengan tren 2019 vs 2024: apa yang naik, apa yang turun.

SCROLL
0%
Anggap politik uang wajar
↑ dari 32,1% (2019)
0%
Memilih karena uang
↑ dari 28% (2019)
0%
Pilih calon, bukan partai
faktor caleg dominan
0%
Partisipasi Pileg
↓ dari 81,69% (2019)
01 · Konteks

Panggungnya Pileg: 580 kursi, ribuan caleg

Pemilu legislatif 2024 memilih 580 anggota DPR RI plus DPRD provinsi dan kabupaten/kota — melibatkan ribuan caleg yang berebut kursi di 84 dapil DPR RI. Pemilih muda (Gen Z + Milenial) kini 53,39% DPT, dan partisipasi Pileg 81,42% (sedikit turun dari 81,69% di 2019). Di panggung yang ramai ini, satu pertanyaan menentukan segalanya: atas dasar apa pemilih menjatuhkan pilihan ke salah satu dari ribuan caleg itu?

02 · Tren 2019 → 2024

Apa yang naik, apa yang turun

Membandingkan 2019 dan 2024 membongkar arah pergeseran perilaku pemilih — dan arahnya tidak selalu menggembirakan.

Normalisasi politik uang (Indikator)

% responden · 2019 vs 2024
Indikator perilaku20192024Tren
Anggap politik uang "wajar"32,1%46,9%↑ +14,8
Menilai "tidak wajar"67,2%49,6%↓ −17,6
Memilih karena uang28%35%↑ +7
Menolak politik uang9,8%8%↓ −1,8
Partisipasi Pileg81,69%81,42%↓ −0,27

Bacaan kuncinya: politik uang makin dinormalisasi — yang menolaknya kian sedikit. Tapi di saat yang sama, mayoritas tetap "terima uang, pilih nurani". Dua kekuatan ini bertarung di bilik suara.

03 · Sosiologis

Apa yang memicu politik uang?

Kenapa politik uang justru menguat? Tiga pemicu saling mengunci. Pertama, biaya politik yang mahal — ongkos menjadi caleg bisa mencapai miliaran hingga puluhan miliar rupiah; biaya itu harus "balik modal". Kedua, tekanan ekonomi — bagi 25,22 juta penduduk (9,03%) yang hidup di bawah garis kemiskinan, amplop terasa sebagai "bantuan", bukan suap. Ketiga, budaya yang kian permisif — karena penegakan hukum lemah, publik makin menganggapnya wajar.

Hasilnya: 46,9% pemilih kini menganggap politik uang "biasa" (naik dari 32,1%), dan 35% mengaku menentukan pilihan karena uang (naik dari 28%).

Respon pemilih saat ditawari uang

Exit poll Indikator, 14 Feb 2024
Miliaran–
puluhan M

Biaya jadi caleg

Ongkos kampanye bisa membengkak hingga puluhan miliar — pemicu utama transaksi.

9,03%

Penduduk miskin

Perdesaan 11,79%. Tekanan ekonomi membuat amplop terasa "bantuan".

48,4%

"Terima uang, pilih nurani"

Blok terbesar — mayoritas tak menjual suara meski menerima. Hanya 8% yang menolak.

04 · Psikologis

Bagaimana identitas & isu membentuk pilihan caleg?

Lapisan kedua: pilihan dibentuk oleh identitas dan isu. Data Indikator soal Pileg menangkapnya dengan jernih. 44% pemilih mencoblos calonnya, bukan partainya — hanya 20,9% yang memilih partai saja. Artinya, di panggung Pileg, sosok caleg mengalahkan bendera partai. Alasan memilih pun menegaskan: "program yang dijalankan paling meyakinkan" (21%), lalu "semua keluarga memilih partai itu" (18%), dan "calonnya paling bagus" (11%).

Di era digital, identitas ini dibentuk lewat media sosial — dan di sinilah disinformasi bekerja: 2.119 hoaks dalam satu semester, 48,9% bertema politik, 62,9% berbentuk video. Terciptalah "ruang gema": 52,2% netizen bahkan tak mengecek informasi yang mereka terima.

44%

Pilih calon, bukan partai

Hanya 20,9% pilih partai saja; 31,8% pilih partai + calon. Sosok caleg jadi penentu.

18%

Ikatan keluarga

Memilih partai karena "semua keluarga memilih partai itu" — ikatan psikologis, bukan akal.

2.119

Hoaks satu semester

48,9% bertema politik, 62,9% video. TikTok & YouTube jadi saluran utama.

05 · Rasional

Kenapa kompetensi makin menentukan?

Lapisan ketiga — dan yang paling menggembirakan — pemilih juga menilai dengan akal. Alasan utama memilih bukan uang, melainkan "perhatian pada rakyat" (17%), "program kerja & visi-misi" (9,9%), dan "bisa dipercaya / amanah" (8,1%). Untuk memilih partai/caleg, alasan teratas justru "program paling meyakinkan" (21%). Ini makin kuat di kalangan muda: 60% pemilih pemula memprioritaskan program & rekam jejak di atas afiliasi partai.

Alasan utama memilih capres–cawapres

Exit poll Indikator, 14 Feb 2024
17%

Perhatian pada rakyat

Alasan tertinggi — empati & keberpihakan, bukan materi.

9,9%

Program & visi-misi

Ditambah "amanah" 8,1% — penilaian rasional atas kapasitas.

60%

Pemilih pemula

Prioritaskan program & rekam jejak. Lebih sulit "dibeli", lebih mudah diyakinkan lewat kerja nyata.

06 · Wajah Daerah

Perilaku pemilih berbeda-beda tiap daerah

Angka nasional memberi pola besar; daerah memberi warna lokalnya. Klik tiap daerah untuk membaca karakter perilaku pemilihnya.

Sulawesi Selatan — patronase kuat dengan partisipasi tinggi. Data di sini khusus Sulsel, terpisah dari nasional.

IndikatorSulselNasional
Partisipasi Pilpres80,57%81,78%
Partisipasi DPRD Provinsi80,32%
Dugaan politik uang (Pilkada)16 kasus130 kasus
93,72%

Kota Parepare

Survei internal partai: responden memilih karena uang (perlu verifikasi independen).

68%

Kabupaten Pinrang

Riset akademik: politik uang berpengaruh 68% terhadap keputusan memilih caleg.

Banten — dinasti politik yang mengakar ("dinasti gurita") berhadapan dengan pemilih yang makin muda.

8,84 jt

DPT Banten

8 kab/kota, 12 dapil, 33.324 TPS.

61,6%

Pemilih muda

Milenial 40,04% + Gen Z 21,58%.

605

Kandidat dinasti

19,5% kandidat Pilkada 2024 nasional berafiliasi dinasti — nyaris 2× lipat.

Jawa Barat — arena Pileg terbesar nasional: basis pemilih raksasa, tapi partisipasi cenderung lesu.

35,9 jt

DPT terbesar

27 kab/kota — provinsi dengan pemilih terbanyak.

65,9%

Partisipasi rendah

Di bawah target 76% — gejala apatisme meski basis pemilih raksasa.

27

Kab/kota

Persaingan caleg paling padat — pertarungan tokoh & kampanye sangat ketat.

Jawa Timur — basis religius (pesantren & kiai) dan loyalitas tokoh yang kokoh.

NU

Basis religius

Limpahan suara pesantren & kiai — contoh sosiologis-agama yang kuat.

66,4%

Loyal pemilih

Pemilih petahana 2018 tetap setia di 2024 — kekuatan incumbency.

PKB

Partai berbasis NU

PKB mengakar di basis nahdliyin — ikatan partai-ormas sangat kuat.

Sumatera Utara — potret apatisme politik: partisipasi paling rendah, golput nyaris separuh.

55,3%

Partisipasi terendah

Golput hampir 47,5% — nyaris separuh DPT tak mencoblos.

10,77 jt

DPT Sumut

33 kab/kota.

Apatis

Tantangan mobilisasi

Pemilih enggan hadir — prioritas pendidikan politik & mobilisasi akar rumput.

07 · Sintesis

Satu pemilih, tiga lapis pengaruh

Ketiga pendekatan tidak saling meniadakan — pemilih 2024 memadukan semuanya. Lingkungan (uang, patronase, dinasti) membentuk preferensi dasar; identitas & isu (partai, tokoh, media sosial) membingkai pilihan; dan akal (kompetensi, rekam jejak) menjadi penentu akhir bagi sebagian besar.

Lapisan pengaruhPenggerak utamaSinyal data 2024
SosiologisUang, patronase, dinasti46,9% anggap wajar · 35% karena uang
PsikologisPartai, tokoh, disinformasi44% pilih calon · 18% ikatan keluarga · 2.119 hoaks
RasionalVisi-misi, rekam jejak17% perhatian rakyat · 60% pemula prioritaskan program

Kesimpulan utamanya: uang memang "membuka pintu", tetapi tidak otomatis memenangkan suara. Lebih dari separuh pemilih — 48,4% yang memilih "nurani" ditambah 8% yang menolak — tetap berpegang pada pertimbangan non-materi. Bagi caleg, strategi yang hanya adu logistik akan mahal dan rapuh; yang membangun rekam jejak, kepercayaan, dan program mengunci segmen yang jauh lebih besar.

08 · Sumber

Semua angka bisa diverifikasi

Data resmi negara (Bawaslu, KPU, BPS), survei nasional (Indikator), dan riset akademik. Beberapa angka bersifat indikasi — ditandai jelas.

Kerangka & perilaku memilih
Simanullang, A. A., dkk. (2023) — tiga pendekatan sosiologis/psikologis/rasional. doi.org/10.46880/methoda.Vol13No2.pp86-93
Politik uang & tren 2019 vs 2024
Indikator Politik Indonesia — Burhanuddin Muhtadi, exit poll 14 Feb 2024 (2.975 responden). Tren: "wajar" 32,1%→46,9%; karena uang 28%→35%; menolak 9,8%→8%. fulcrum.sg
Bawaslu RI — 90 temuan + 144 laporan politik uang. akurat.co
Ekonomi & partisipasi
BPS — kemiskinan Maret 2024: 9,03% (25,22 juta), perdesaan 11,79%. bantenprov.go.id
KPU via Kompas — partisipasi Pileg 81,42% (2024) vs 81,69% (2019). kompas.id
Pemilih muda 53,39% DPT (KPU). jurnal.stmiki.ac.id
Alasan memilih caleg & identitas
Indikator — alasan memilih: "perhatian pada rakyat" 17%, "program" 9,9%, "amanah" 8,1%. indikator.co.id
Indikator — Pileg: 44% pilih calon saja, 20,9% partai saja; "program meyakinkan" 21%, "keluarga" 18%. pemilu.antaranews.com
Toleransi politik uang — perempuan & basis PKB/PAN/Demokrat/Golkar/Gerindra lebih toleran. tirto.id
Disinformasi & hoaks
Mafindo — 2.119 hoaks semester I 2024, 48,9% politik, TikTok 26,7% / YouTube 25,4%. mafindo.or.id
Mafindo — literasi hoaks "sedang": 60% tak kenali hoaks WNA-KTP. mafindo.or.id
Wajah daerah
Sulsel — partisipasi 80,57%. makassar.antaranews.com · Parepare 93,72%. kilassulawesi.com
Banten — DPT 8.842.646, milenial 40,04%. bantenprov.go.id
Jawa Barat — DPT 35,9 juta. id.wikipedia.org
Sumatera Utara — partisipasi terendah. kompas.id
Politik dinasti — 605 kandidat (19,5%). fisipol.ugm.ac.id